Mengenang SDSB dan Porkas: Judi Lotre Legal Ala Orba yang Konon Ubah Nasib Rakyat Kecil

MENGENANG SDSB DAN PORKAS: JUDI LOTRE LEGAL ALA ORBA YANG KONON UBAH NASIB RAKYAT KECIL

Judi lotre dari dulu hingga sekarang masih menjadi salah satu pilihan judi yang marak dimainkan di berbagai negara, terutama negara-negara maju. Sebut saja Jepang dan Amerika Serikat.

Coba kalian bayangkan saja, di negara-negara maju, praktik judi lotre ini terang-terangan dijalankan bahkan legal, mulai dari judi sepak bola hingga judi terbaru yang mulai nge-hits saat ini, yaitu e-sport.

Fenomena ini bukan suatu hal yang tabu di sana. Pasalnya, budaya bermain lotre menjadi bagian dari hiburan bagi para pemainnya.

Lain hal dengan Indonesia. Lotre dan bahkan hal-hal yang mengandung unsur perjudian mendapat larangan keras dan status ilegal karena dinilai tidak sesuai dengan moral, budaya, hukum, dan nilai agama yang berlaku di Indonesia.

Namun ketentuan ini tak berlaku semasa Orde Baru masih berkuasa di Indonesia. Iya benar, masa di mana mantan Presiden Soeharto memimpin Indonesia, judi lotre, apapun bentuk dan namanya, sempat berstatus legal dan bahkan pelaksanaannya diatur oleh pemerintah.

Lebih mengejutkannya lagi adalah sebagian dana dari judi lotre ala Orba ini digunakan untuk pembangunan. Tentu saja dari mekanisme dan prosesnya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menyerupai praktik perjudian.

Porkas: Bintang Judi Lotre bagi Kaum Rakyat Kecil Kita

Siapa yang menyangka bahwa dulu Indonesia pernah melegalkan berbagai jenis pemasangan undian yang cenderung dekat dengan praktik perjudian. Bagi kalian yang hobi membaca sejarah Indonesia pada masa Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto pasti mengetahui sekilas tentang Porkas yang pada masa itu sangat ramai dan diminati.

Porkas adalah semacam undian legal yang konon katanya dapat mengangkat perekonomian rakyat kecil. Padahal, Porkas sendiri jika kita analisa dengan seksama, tak ada bedanya dengan judi lotre. sedangkan judi itu sendiri dilarang di Indonesia selama Soekarno memimpin Indonesia.

Bagi Bapak Proklamator ini, perjudian adalah perbuatan yang dapat merusak moral anak bangsa. Perjudian juga, secara terang-terangan, dapat merugikan rakyat. Selama Soekarno memimpin, segala praktik perjudian benar-benar diberantas.

Keadaan berbalik saat Soekarno tumbang dari pemerintahan dan segera diambil-alih oleh Soeharto kala itu. Di bawah pimpinan Soeharto, tepatnya bulan Desember 1985, pemerintah merilis sebuah undian berskala nasional.

Para pemasang undian menggunakan ilmu perkiraan dan insting mereka untuk dapat menjadi pemenang. Dengan kata lain, secara teknis, cara kerja undian nasional ini kurang lebih sama dengan judi lotre.

Namun, ada sebagian orang yang berpendapat lain. Menurut mereka, Porkas, sebutan untuk undian atau judi lotre berskala nasional ini, tidak termasuk dalam bentuk perjudian, melainkan 100 persen berupa undian. Meski sebagian besar orang tak sependapat dengan opini barusan, tetap saja banyak masyarakat yang antusias memasang undian ini.

Porkas: Undian Menebak Skor Akhir Pertandingan

Porkas atau judi lotre buatan Orba ini pertama kali dirilis sekitar tahun 1980-an. Porkas ini dibuat sesuai dengan UU resmi, yaitu UU No 22 Tahun 1954. Undang-undang resmi ini berisi tentang segala hal yang berkaitan dengan pengaturan undian. Segala aturan dirangkum dalam undang-undang ini, termasuk aturan untuk mendapatkan undian Porkas ini.

Berbeda dengan judi lotre pada umumnya yang dapat dijual dan dibeli dengan bebas, Porkas hanya bisa dibeli dengan ketentuan khusus. Salah satunya adalah Porkas tidak dijual di desa-desa, terutama desa miskin.

Baca Juga : Mengenal Judi Online

Porkas hanya bisa dijual minimal di tingkat kabupaten. Porkas juga hanya bisa dibeli oleh mereka yang berusia di atas 17 tahun. Aturan-aturan ini bersifat mengikat dan tegas.

Lantas, bagaimana dengan mekanisme Porkas? Apakah memiliki aturan main yang sama dengan judi lotre pada umumnya? Berdasarkan info yang didapat dari salah satu media cetak ternama Indonesia, Tempo, Porkas hanya memberi tiga pilihan tebakan untuk para pemainnya. Ketiga pilihan tebakan tersebut adalah Menang, Seri, atau Kalah (M,S,K).

Pemain Porkas hanya perlu menebak hasil akhir pertandingan dari 14 tim yang saat itu sedang bertanding. Hasil taruhan yang terkumpul dari undian nasional jumlahnya tak main-main, yaitu mencapai 11 milyar rupiah.

Nominal ini pada masa Orde Baru adalah nominal yang sangat besar. Pemerintah lalu mengalokasikan dana Porkas ini untuk kebutuhan PSSI, KONI, dan lembaga-lembaga resmi lainnya yang terlibat.

Pihak Penentang Porkas

Sejak awal dirilis, sebenarnya sudah ada cukup banyak pihak yang keberatan dengan penyelenggaraan Porkas. Tak hanya dari masyarakat yang menjunjung nilai moral dan budaya kita sebagai bangsa berbudaya ketimuran, melainkan juga pihak MUI yang juga turut menentang keras adanya Porkas.

Pihak-pihak yang menentang ini menganggap bahwa Porkas hanya akan menimbulkan masalah keuangan nasional saja.

Sebagai bentuk keseriusannya dalam menentang Porkas, MUI pada waktu itu sempat menulis sebuah surat resmi pada pertengahan tahun 1986 lalu. Surat tersebut ditujukan kepada pemerintah dengan tujuan agar pemerintah dapat mengevaluasi kembali soal pelaksanaan Porkas.

Aksi menolak Porkas pun terus berlanjut hingga Porkas pada akhirnya dibubarkan. Sebagai penggantinya, pemerintah lalu membuka jenis undian baru yang dinamakan KSOB (Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah).

Seperti yang ditulis oleh Tempo edisi 28 November 1987, pemerintah mengiming-imingi hadiah sebesar 8 juta rupiah bagi pemenang kupon yang mirip dengan judi lotre ini. Kupon ini pun dijual seharga 600 rupiah per lembar.

Kali ini pemain tidak main dengan cara menebak menang, seri, kalah, melainkan menebak skor akhir suatu pertandingan. Selama tahun 1987, undian berhadiah ini laku dijual dan berhasil memperoleh omset 221 milyar rupiah. Sungguh luar biasa.

Porkas Memudar, Hadirlah SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah)

Nama Porkas sempat memudar, lalu pemerintah mencari akal untuk tetap menghidupkannya. Salah satu caranya yaitu dengan mengubah nama Porkas menjadi beberapa nama lainnya. Porkas pernah berganti nama menjadi SOB yang tak lain adalah singkatan dari Sumbangan Olahraga Berhadiah.

Tak lama kemudian, nama tersebut diganti menjadi TSSB yang memiliki kepanjangan Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah hingga akhirnya diubah lagi untuk yang terakhir kalinya dengan nama Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah atau disingkat SDSB.

Meski namanya telah diubah, inti dari judi lotre ala Orba ini sama saja, yaitu menebak hasil akhir suatu pertandingan. Yang membedakan Porkas dan SDSB adalah jenis undian yang dibagi menjadi 2, yaitu undian seharga 1.000 rupiah dan undian seharga 5.000 rupiah.

Hadiah yang ditawarkan juga sangat berbanding terbalik. Artinya, hadiah yang ditawarkan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan harga kupon perlembarnya.

Hadiah yang dijanjikan kepada pembeli kupon seharga 1.000 rupiah kira-kira sebesar 3.6 juta rupiah, sedangkan hadiah untuk pemenang kupon seharga 5.000 rupiah sekitar 1 milyar rupiah. Hadiah jutaan dan bahkan milyaran rupiah pada masa Orde Baru tentu sangat besar.

Jenis SDSB

Kupon berhadiah yang sistem kerjanya mirip dengan judi lotre ini memiliki tampilan fisik seperti voucher yang di dalamnya tertulis angka dan nomor seri. Terdapat 7 angka pada kupon ini dan angka-angka tersebut berupa angka acak.

Kupon ini dapat dibeli di agen-agen resmi yang biasanya beroperasi di daerah-daerah. Kupon berhadiah ini juga dijual oleh sub-agen resmi yang unitnya lebih kecil yang biasanya dijumpai di pinggir-pinggir jalan pada masa itu.

Kemudian untuk jenis, ada dua jenis pilihan, yaitu kupon terbuka dengan angka-angka yang bebas terlihat dan kupon tertutup yang disimpan dalam amplop berwarna putih.

Masing-masing jenis mengandung angka-angka acak. Bedanya adalah untuk kupon terbuka, pembeli boleh bebas memilih kupon dengan angka tertentu, sedang untuk jenis kupon yang tertutup, pembeli tidak bisa mengetahui angka yang tertulis pada kupon.

Waktu Pengundian SDSB

Kupon berhadiah SDSB ini biasanya diundi seminggu sekali. Seiring dengan meningkatnya peminat kupon ini, waktu untuk mengundi kupon ini kemudian ditambah menjadi 2 kali dalam seminggu. Waktu pengundian pun diadakan setiap Minggu malam mulai pukul 00.00 WIB dan malam Kamis di jam yang sama.

Ketika itu pengundiannya disiarkan langsung di channel TV nasional RI, yaitu TVRI. Biasanya sebelum pengundian, agen dan sub-agen resmi akan menutup lapak mereka maksimal pukul 21.00 WIB. Dari sini saja kita dapat melihat bahwa praktik judi lotre ini benar-benar terselubung dan berjalan sangat rapi.

Baca Juga : Pilihan Game Remi Online Terbaik di Play Store, Penggemar Remi Wajib Download!

Bahkan pelaksanaannya pun mendapat dukungan dari pemerintah. Hal ini dibuktikan dari adanya keterlibatan TVRI sebagai stasiun TV yang mendapat hak siar pengundian.

Aturan Main SDSB

Nah, ngomongin soal aturan main SDSB, sebenarnya tak terlalu berbeda dengan aturan main judi togel. Kombinasi angka yang ditebak oleh pemain tak harus cocok 7 angka. Pemain tetap berpeluang mendapat hadiah jika ada kecocokan di dua angka terakhir saja.

Besaran hadiah yang diterima oleh pemenang tentu berbeda-beda; tergantung pada berapa jumlah angka terakhir yang cocok. Semakin banyak jumlah angka terakhir yang cocok, semakin besar pula hadiah yang akan diterima.

Sedang apabila ada pemain yang berhasil menebak 7 angka yang cocok dengan angka yang telah terkocok, ia akan langsung menerima hadiah utama, yaitu hadiah uang sebesar 1 miliar dipotong pajak 20%.

Prosedur pengambilan hadiah tiap pemenang juga berbeda-beda. Untuk pemenang dengan nominal hadiah kecil, ia dapat langsung mengambil hadiah di agen resmi terdekat. Namun jika ada pemenang dengan nominal hadiah besar, ia harus menunggu beberapa hari selagi hadiah masih dicairkan.

Beda lagi dengan pengambilan hadiah utama. Pemenang hadiah utama wajib datang ke Jakarta untuk mengklaim hadiah yang sudah menjadi haknya.

Omset SDSB dan Pemanfaatannya

Dilansir dari Harian Kedaulatan Rakyat edisi 27 Maret 1986, kupon undian SDSB atau SSB memperoleh omset kurang lebih 1 triliun rupiah per tahun. Omset ini didapat dari hasil taruhan sebesar 2.5 milyar rupiah dan hasil penjualan 4 juta lembar undian yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia.

Omset yang sangat besar ini tentu menjadi ‘ladang’ korupsi bagi para pejabat yang ikut terlibat dalam pelaksanaan dan pengelolaan SDSB.

Nomor Buntutan: ‘SDSB Tandingan’

Rupanya perilisan SDSB dimanfaatkan sangat baik oleh bandar-bandar yang memang sedang mencari keuntungan. Para bandar ini membuat SDSB ‘tandingan’ yang dinamakan Nomor Buntutan.

Mekanisme kerjanya sama dengan SDSB dan judi lotre yang telah lama dikenal di Indonesia. Yang membedakannya hanya ada dua poin saja, yaitu jumlah angka terakhir yang wajib ditebak oleh tiap pemain.

Jika SDSB memiliki 7 kombinasi angka, Nomor Buntutan hanya memiliki 4 kombinasi angka saja. Perbedaan yang kedua adalah waktu pengundian yang mana untuk Nomor Buntutan ini, waktu pengundiannya dilakukan setiap hari. Besaran hadiah juga berbeda, tergantung pada keinginan para bandar.

Aturan Main Nomor Buntutan

Lantas, bagaimana cara memainkannya? Sama persis dengan judi togel. Pemain wajib menebak 2, 3, atau 4 angka terakhir. Lebih jelasnya, silahkan simak contoh berikut: jika ada seorang pemain membeli Nomor Buntutan sebanyak 4 angka, meski 2 angka terakhir cocok dengan hasil kocokan bandar, ia dinyatakan masih belum menang dan tidak berhak mendapat hadiah.

Biasanya untuk memenangkan judi lotre versi jadul ini, banyak pemain yang menggunakan trik ini: pembeli membeli 4 angka lalu membeli lagi 3 angka dan 2 angka. Jadi ketika ada dua atau tiga angka terakhir cocok, ia akan otomatis menang.

Hadiah yang didapat berupa uang 60 kali lipat dari jumlah uang pembelian dua angka. Untuk Nomor Buntutan 3 dan 4 angka, hadiah yang diterima oleh pemenang secara otomatis lebih besar lagi.

Tentu saja hadiah yang terbilang sangat besar ini membuat banyak orang tergiur untuk membelinya. Banyak orang pada masa itu benar-benar kecanduan akan kupon berhadiah yang mirip dengan judi lotre ini.

Banyak di antara mereka yang ingin kaya mendadak dari judi lotre versi jadul ini. Banyak juga yang belajar ilmu matematika, terutama matematika peluang, hanya untuk memenangkan kupon ini.

Anehnya lagi, ada beberapa orang yang memanfaatkan beberapa buku ‘aneh’ untuk membantu mereka menangkan kupon. Sebut saja buku Seribu Tafsir Mimpi’ yang katanya dapat memberi petunjuk angka berapa saja yang akan keluar melalui mimpi. Ada-ada saja.

Ada yang lebih ekstrem lagi. Misalnya dengan mencari pencerahan dengan berziarah ke makam yang dianggap suci. Ada juga yang melakukan tirakat di tempat-tempat keramat.

Semua ini bertujuan agar yang bersangkutan mendapatkan wangsit berupa angka-angka yang katanya akan muncul di pengundian yang akan datang.

Mendatangi dukun atau ‘orang pintar’ juga menjadi rutinitas wajib bagi mereka yang sangat obsesif menjadi orang kaya baru dengan cara instan ini. Dan yang paling gila menurut kami, tim penulis, adalah ada juga pemain yang rela menanyakan angka-angka yang dipercaya akan keluar kepada orang gila alias orang yang tidak waras. Tentu saja ini semua tidak masuk akal, bukan begitu?

SDSB Terpuruk Akibat Praktik Korupsi

Rupanya SDSB tak bisa bertahan lama. Praktik undian yang sangat mirip dengan judi lotre ini mengalami keterpurukan akibat ulah beberapa oknum ‘nakal’ yang mengkorupsi sebagian besar dana iuran rakyat ini.

Oknum-oknum tersebut dengan sengaja tidak menyetorkan dana yang sudah terkumpul. Padahal dana-dana yang sudah terkumpul wajib disetor kepada pihak pengurus SDSB pusat untuk dimanfaatkan. Belum lagi praktik ‘nakal’ lain seperti penggunaan dana untuk pembayaran hutang dan lain sebagainya.

Akibat tindakan kecurangan ini, banyak pengguna SDSB yang melayangkan protes besar-besaran. Ditambah lagi kondisi masyarakat saat itu di mana kemiskinan merajalela.

Banyak masyarakat dan mahasiswa yang berdemo dengan tajuk ‘anti-SDSB’. Aksi demo ini pun membuahkan hasil. Sekitar tahun 1993, SDSB secara resmi dihapus.